• Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer

Pasti Aswaja's Content

Tentang Kami

Manusia ditakdirkan oleh Tuhan sebagai makhluk sosial. Manusia memerlukan kerjasama dengan yang lainnya dalam rangka mencapai tujuan dan memenuhi kebutuhan hidupnya, baik kebutuhan duniawi maupun kebutuhan ukhrawi. Oleh karena itu, maka membangun persaudaraan antar sesama sangatlah penting. Esensi persaudaraan terletak pada kasih sayang yang ditampilkan dalam bentuk perhatian, kepedulian, hubungan yang akrab serta merasa senasib dan sepenanggungan.

Dalam Islam, ada tiga konsep persaudaraan, yaitu: pertama, QS. Al-Hujurat: 10 tentang ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama Islam);

انما المؤمنون اخوة فاصلحوا بين اخويكم واتقوا الله لعلكم ترحمون

Artinya: “orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara sebab itu damaikanlah (perbaikilah) hubungan antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah supaya kamu mendapat rahmat.”

Kedua, QS: Al-A’raf: 65 tentang ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa);

والى عاد اخاهم هودا. قال يا قوم اعبدوا الله ما لكم من اله غيره. افلا تتقون

Artinya: “dan (Kami telah mengutus) kepada kaum ‘Aad saudara mereka, Hud. Ia berkata: ‘hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain dari-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya?”

Ketiga, QS. Shad: 23 tentang ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia).

ان هذا اخي له تسع وتسعون نعجة ولي نعجة واحدة فقال اكفلنيها وعزني في الخطاب.

Artinya: “sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: ‘serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.”

Ukhuwah Islamiyah pertama kali dipraktekkan oleh Rasulullah semasa beliau masih di Mekkah. Waktu itu, Rasulullah baru menyebarkan ajaran Islam dan masih mendapatkan sedikit pengikut. Untuk menjaga stabilitas umat Islam pada waktu itu, Rasulullah menanamkan nilai-nilai ukhuwah islamiyah. Setelah Rasulullah bersama para sahabatnya hijrah ke Madinah, beliau membentuk sebuah kota yang bernama Madinah yang kemudian menjadi pusat dunia Islam. Untuk menjaga stabilitas negara Madinah, maka beliau menanamkan nilai-nilai ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah basyariyah setelah internal ukhuwah Islamiah mapan. Hal ini terlihat pada pasal-pasal dalam Shahifah Madinah khususnya pasal 2 yang artinya: “mereka adalah satu bangsa (sekalipun) dari komunitas yang berbeda.”

Selain itu, ada juga ukhuwah khusus yang dibina baginda Rasul SAW, yaitu keeratan persaudaraan (Ikha’) di antara individu antar sahabat Muhajirin dan Anshor yang otomatis memperkuat dua kelompok besar tersebut. Setelah baginda sukses mempersatukan di antara kabilah-kabilah yang selalu bertikai di Madinah, beliau juga mempererat persaudaraan di antara sahabat tertentu dengan muslim pendatang diluar Al-muhajirin seperti Salman Al-farisi dengan sahabat yang dekat dengan baginda baik dari kalangan Anshor maupun Muhajirin.

للفقراء المهاجرين الذين أخرجوا من ديارهم واموالهم يبتغون فضلا من الله ورضوانا وينصرون الله ورسوله. اولئك هم الصادقون. والذين تبوؤا الدار والايمان من قبلهم يحبون من هاجر اليهم ولا يجدون في صدورهم حاجة مما اوتوا ويؤثرون على انفسهم ولو كان بهم خصاصة. ومن يوق شح نفسه فاولئك هم المفلحون. والذين جاؤ من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولاخواننا الذين سبقون بالايمان ولا تجغل في قلوبنا غلا للذين امنوا ربنا انك رؤف رحيم.

Artinya: “(juga) bagi orang faqir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridlaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin): dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekirian dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: ‘ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman: ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 8,9,10).

Dari ayat diatas, dapat dibayangkan betapa besarnya perjuangan baginda Rasul SAW membina ukhuwah yang tertanam menancap kedalam lubuk hati dari dua kelompok pendatang dan penerima hingga melebihi saudara sekandung yang sangat besar saling pengertiannya, saling mengalah dan saling menghayati. Sedangkan pada ayat ke 10, memberikan pengertian betapa kuatnya jiwa dan rasa ukhuwah yang ditanamkan bagida Rasul bagi mereka, sehingga dapat menumbuhkan rasa sayang, rahmat dan rasa tergugah pada generasi berikutnya untuk dengan ikhlas selalu mendo’akan para pendahulunya yaitu saudara-saudara seiman sebelumnya seraya memohon ampun bagi mereka (sebelumnya) di waktu pagi, sore, malam dan di setiap kesempatan.

Allah dalam Al-Quran memposisikan keseluruhan manusia di tempat yang mulia, “dan kami muliakan anak cucu Adam” (QS: Al-Isra’: 70). Manusia diciptakan dengan identitas yang berbeda-beda tidak ada lain supaya mereka saling mengenal dan saling memberi manfaat antara satu dengan yang lainnya (QS: Al-Hujurat: 13). Tiap-tiap umat diberi aturan dan jalan (yang berbeda), padahal seandainya Tuhan bekehendak, seluruh umat manusia bisa saja disatukan dalam kesatuan ummat. Oleh karena itu Rasulullah bersabda supaya seluruh umat manusia menjadi saudara antara satu dengan yang lain (HR. Bukhari).

Pemuda dan Santri Inspiratif Ahlus Sunnah wal Jamaah (Pasti Aswaja) lahir atas inisiatif kiyai-kiyai muda Pamekasan (atas restu kiai-kiai sepuh) setelah melihat makin tergerusnya nilai-nilai Islam, nilai-nilai akhlaq yang mulia dan nila-nilai persaudaraan di tengah-tangah masyarakat Madura, khususnya, dan Nusantara pada umumnya. Tujuan utama Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin tertutupi tindakan-tindakan radikalisme yang mengatasnamakan agama. Takfir (mengkafirkan kelompok lain), tasyrik (menganggap syirik kelompok lain), tabdi’ (menganggap bid’ah amaliah kelompok lain) menjadi “senjata” untuk menyalahkan kelompok-kelompok di luar mereka, yang kemudian juga berimbas pada penyalahan tradisi dan budaya masyarakat Madura secara membabi buta dan bahkan ke Nusantara pada umumnya. Tidak hanya itu saja, banyak juga kelompok-kelompok radikal yang mengenyampingkan nilai-nilai humanisme, bahkan tidak jarang sampai terjadi kekerasan fisik hanya karena alasan perbedaan keyakinan dan dakwah. Ada juga kelompok lain yang menginginkan berdirinya khilafah islamiyah di bumi Nusantara ini. Kelompok ini beranggapan bahwa nasionalisme tidak penting dan hanya memecah belah umat Islam. Sistem NKRI dan pancasila haram diterapkan di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan tidak wajib ditaati.

Di samping itu juga banyak hal yang sebetulnya kecil/remeh tapi dibesar-besarkan sehingga di tengah-tangah masyarakat menimbulkan masalah yang sulit diatasi karena di antara mereka tidak bisa menahan diri atau hal itu bisa jadi karena sengaja untuk merusak, padahal manusia yang memiliki akal sehat semestinya bisa untuk tidak membuat masalah dan bukan membikin masalah. Al-Qur’an sudah memberi petunjuk (al-Qashas: 77).

Dan tidak hanya itu saja, masih banyak kelompok-kelompok lain yang mengaku Islam, tapi tidak mencerminkan nilai-nilai Islam dan mengenyampingkan hukum-hukum Islam.

Oleh karenanya, untuk melakukan upaya penguatan aqidah Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) menuju Islam yang rahmatan lil’alamin, serta untuk mengimbangi gerakan Islam radikal dan dan kelompok lain di luar Aswaja seperti tersebut di atas, maka dipandang perlu untuk menyebarkan ajaran Islam sesuai aqidah salafus shalih di berbagai lini, termasuk melalui media sosial agar nila-nilai Islam yang santun, ramah, sesuai dengan konteks ke-Indonesiaan seperti yang diajarkan Wali Songo dan sesuai dengan aqidah ahlussunah Wal jamaah ala salafus shalih yang dituntun dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah bisa tertanam dengan baik di Nusantara ini.

Maka dari itu, para pemuda dan santri (termasuk alumni) pesantren an-Nahdliyah pamekasan mendirikan situs PASTI ASWAJA yang merupakan akronim dari Pemuda dan Santri Inspiratif Ahlus Sunnah wal Jamaah.

2 comments:

Pasti Aswaja. Powered by Blogger.
J-Theme